DP3AP2KB Provinsi Papua Gelar Edukasi Kesehatan Reproduksi Berbasis Kearifan Lokal di Waropen
Waropen, DP3AP2KB Papua – Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Papua melaksanakan kegiatan Pengembangan dan Penyediaan Materi Promosi serta Konseling Kesehatan Reproduksi dan Hak-Hak Reproduksi Sesuai Kearifan Budaya Lokal di Kabupaten Waropen, Rabu (20/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Klasis GKI Kabupaten Waropen tersebut diikuti oleh 53 siswa pelajar SMA dan SMP, guru pendamping, serta mitra kerja program kependudukan dan keluarga berencana.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Waropen, Bob Woriori, S.STP., M.Si, yang hadir mewakili Gubernur Papua. Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut Plt. Kepala DP3AP2KB Provinsi Papua, Selvina Imbiri, SKM., MPH, serta Plt. Kepala DP3AKB Kabupaten Waropen.
Dalam sambutan Gubernur Papua yang dibacakan oleh Plt. Sekda Kabupaten Waropen, disampaikan bahwa kegiatan tersebut memiliki makna penting dalam upaya membangun kualitas kehidupan masyarakat Papua yang lebih sehat, sadar, dan bermartabat.
“Kesehatan reproduksi bukan hanya berkaitan dengan aspek medis semata, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, budaya, moral, serta masa depan generasi Papua,” ujar Bob Woriori saat membacakan sambutan Gubernur Papua.
Ia menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan harus mampu menghargai nilai-nilai budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, budaya lokal harus menjadi kekuatan utama dalam menyampaikan edukasi, membangun kesadaran, dan memperkuat perlindungan terhadap hak-hak reproduksi masyarakat.
Selain itu, kekayaan budaya yang dimiliki Kabupaten Waropen diharapkan dapat diintegrasikan dalam materi promosi kesehatan maupun layanan konseling, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik dan diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Provinsi Papua berharap dapat meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai kesehatan reproduksi dan hak-hak reproduksi, sekaligus memperkuat peran budaya lokal sebagai media edukasi yang efektif di tengah masyarakat.